//
you're reading...
Aqidah & Manhaj, Munakahat & Keluarga, Muslimah, Mutiara bagi Remaja

Beriman tentang adanya Kehidupan Sesudah Kematian

Rabu, 12 Maret 2008 – 07:12:00,
Penulis : Al-Ustadz Abu Abdillah Abdurrahman Mubarak Ata
Kategori : Aqidah

Beriman Adanya Kebangkitan Setelah Kematian

Orang baik ataupun jahat sama-sama akan menuai hasil perbuatannya selama di dunia di hari perhitungan nanti. Secara akal sehat, mereka takkan mungkin dibiarkan mati begitu saja tanpa adanya balasan atas mereka. Sehingga orang-orang yang baik tidak mungkin mendapat ganjaran yang sama dengan mereka yang jahat.

Hari kiamat adalah hari yang sangat dahsyat. Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitakan dahsyatnya hari tersebut di dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ. يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّا أَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَى وَمَا هُمْ بِسُكَارَى وَلَكِنَّ عَذَابَ اللهِ شَدِيدٌ
“Hai manusia, bertakwalah kepada Rabbmu. Sesungguhnya goncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat dahsyat. (Ingatlah) pada hari (ketika) kalian melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan wanita yang hamil gugur kandungannya, kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi adzab Allah itu sangat sangat keras.” (Al-Hajj:1-2)
Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
تُحْشَرُونَ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلاً. قَالَتْ عَائِشَةُ: فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، الرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ؟ فَقَالَ: اْلأَمْرُ أَشَدُّ مِنْ أَنْ يُهِمَّهُمْ ذَاكِ
“Kalian akan dikumpulkan pada hari kiamat nanti dalam keadaan tidak memakai alas kaki, tidak berpakaian, dan belum dikhitan.” Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Wahai Rasulullah, kaum pria dan wanita sebagian mereka akan melihat yang lainnya.” Rasulullah berkata: “Keadaan ketika itu lebih dahsyat, mereka tidak lagi memikirkan hal itu.” (HR. Al-Bukhari no. 6572, Muslim no. 2859)
Di hari kiamat akan terjadi beberapa peristiwa yang harus diimani seorang muslim. Al-Imam Ath-Thahawi rahimahullahu berkata: “Kami beriman adanya ba’ts (kebangkitan setelah mati), balasan amal, ditampakkannya amalan, hisab, membaca catatan amal, (juga beriman) adanya pahala dan siksa, serta shirath dan mizan.” (Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah)
Al-Imam Ash-Shabuni rahimahullahu menyatakan: “Ahlud din dan sunnah beriman akan adanya kebangkitan setelah mati di hari kiamat serta mengimani segala yang telah diberitakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang dahsyatnya hari yang haq tersebut.”

Ba’ts (Kebangkitan)
Di antara kejadian yang akan terjadi di hari kiamat adalah ba’ts. Ba’ts adalah dihidupkannya kembali seluruh manusia yang telah mati pada hari kiamat. (Syarh Lum’atul I’tiqad hal. 115)
Ibnu Taimiyyah rahimahullahu menerangkan: “Yang dimaksud di sini adalah dihidupkannya orang-orang yang telah mati dan keluarnya mereka dari kubur mereka untuk mendapatkan keputusan di hari kiamat.” (Tanbihatus Saniyah hal. 225)
Dalil akan adanya ba’ts (kebangkitan) adalah Al-Qur`an, As-Sunnah, dan ijma’. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَاسْتَمِعْ يَوْمَ يُنَادِ الْمُنَادِ مِنْ مَكَانٍ قَرِيبٍ. يَوْمَ يَسْمَعُونَ الصَّيْحَةَ بِالْحَقِّ ذَلِكَ يَوْمُ الْخُرُوجِ
“Dan dengarkanlah (seruan) pada hari penyeru (malaikat) menyeru dari tempat yang dekat. (Yaitu) pada hari mereka mendengar teriakan dengan sebenar-benarnya. Itulah hari keluar (dari kubur).” (Qaf: 41-42)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
أَلاَ يَظُنُّ أُولَئِكَ أَنَّهُمْ مَبْعُوثُونَ. لِيَوْمٍ عَظِيمٍ. يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ
“Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam?” (Al-Muthaffifin: 4-6)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَى
“Dari bumi (tanah) itulah, Kami menjadikan kalian, kepadanya Kami akan mengembalikan kalian, dan darinya Kami akan mengeluarkan kalian di kali yang lain.” (Thaha: 55)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَاللهُ أَنْبَتَكُمْ مِنَ اْلأَرْضِ نَبَاتًا. ثُمَّ يُعِيدُكُمْ فِيهَا وَيُخْرِجُكُمْ إِخْرَاجًا
“Dan Allah menumbuhkan kalian dari tanah dengan sebaik-baiknya, kemudian Dia mengembalikan kalian ke dalam tanah serta mengeluarkan kalian (darinya pada hari kiamat) dengan sebenar-benarnya.” (Nuh:17-18)
Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
يُبْعَثُ كُلُّ عَبْدٍ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ
“Setiap hamba akan dibangkitkan sesuai dengan keadaannya ketika meninggal.” (HR. Muslim no. 2878)
Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا أَنْزَلَ اللهُ بِقَوْمٍ عَذَابًا أَصَابَ الْعَذَابُ مَنْ كَانَ فِيهِمْ ثُمَّ بُعِثُوا عَلَى أَعْمَالِهِمْ
“Jika Allah menginginkan siksa pada suatu kaum, niscaya adzab-Nya mengenai orang yang bersama mereka, kemudian mereka akan dibangkitkan sesuai dengan amalan mereka.” (HR. Al-Bukhari no. 6575, Kitabul Fitan, Bab Idza Anzalallahu bi Qaumin ‘Adzaban)
Ayat-ayat dan hadits di atas adalah sebagian dari dalil-dalil tentang adanya ba’ts (hari manusia dihidupkan kembali). Dan kaum muslimin sepakat akan adanya ba’ts.

Setiap Orang akan Dibangkitkan Sesuai Keadaannya ketika Mati
Hadits-hadits yang shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan akan hal tersebut, yakni setiap orang akan dibangkitkan sesuai dengan keadaannya ketika meninggal. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
يُبْعَثُ كُلُّ عَبْدٍ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ
“Setiap hamba akan dibangkitkan sesuai dengan keadaannya ketika meninggal.” (HR. Muslim no. 2878, Kitabul Jannah wa Shifati Na’imiha wa Ahliha, Bab Al-Amru bi Husni Zhan billahi Ta’ala ‘indal Maut)
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyatakan tentang seseorang yang terluka di medan perang:
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لاَ يُكْلَمُ أَحَدٌ فِي سَبِيلِ اللهِ -وَاللهُ أَعْلَمُ بِمَنْ يُكْلَمُ فِي سَبِيلِهِ- إِلاَّ جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَاللَّوْنُ لَوْنُ الدَّمِ وَالرِّيْحُ رِيحُ الْمِسْكِ
“Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, tidaklah ada seorang yang terluka di jalan Allah –Allah Maha Tahu siapa yang terluka di jalan-Nya– kecuali dia akan datang di hari kiamat dalam keadaan terluka, warnanya warna darah namun baunya bau misik (minyak wangi).” (HR. Al-Bukhari no. 2593, Kitabul Jihad was Sair, Bab Man Yujrahu fi Sabilillah ‘Azza wa Jalla dan Muslim, no. 1876, Kitabul Imarah, Bab Fadhlul Jihad wal Khuruj fi Sabilillah)
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata tentang seseorang yang meninggal dalam keadaan ihram:
اغْسِلُوهُ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ وَكَفِّنُوْهُ فِي ثَوْبَيْهِ وَلاَ تُخَمِّرُوا رَأْسَهُ فَإِنَّ اللهَ يَبْعَثُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مُلَبِّيًا
“Mandikanlah dia dengan air dan daun bidara, kafanilah dia dengan dua pakaian ihramnya, janganlah kalian menutup kepalanya, karena Allah akan membangkitkan dia dalam keadaan bertalbiyah.” (HR. Muslim no. 1206, Kitabul Hajj, Bab Ma Yuf’alu bil Muhrim idza Mata)

Manusia Dibangkitkan ketika Malaikat Israfil Meniup Sangkakala yang Kedua
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي اْلأَرْضِ إِلاَّ مَنْ شَاءَ اللهُ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ
“Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah semua makhluk yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi maka mereka pun berdiri menunggu (putusannya masing-masing).” (Az-Zumar: 68)
Asy-Syaikh Al-Hakami rahimahullahu berkata: “Dalam ayat ini disebutkan dua tiupan sangkakala, yang pertama untuk kematian dan yang kedua dibangkitkannya makhluk setelah kematian.” (A’lamus Sunan Al-Mansyurah hal. 97)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَإِذَا هُمْ مِنَ اْلأَجْدَاثِ إِلَى رَبِّهِمْ يَنْسِلُونَ
“Dan ditiuplah sangkalala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Rabb mereka.” (Yasin: 51)
Tiupan ini adalah tiupan sangkalala yang kedua, sebagaimana dalam hadits Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma:
ثُمَّ يُنْفَخُ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ
“Kemudian ditiuplah sangkakala untuk kali berikutnya. Maka manusia pun berdiri menunggu (keputusan).” (HR. Muslim no. 2940)

Manusia Dibangkitkan Kembali dari Tulang Ekornya
Al-Imam Ibnul Abil ‘Izzi rahimahullahu berkata: “Pendapat salaf dan jumhur orang-orang yang berakal adalah bahwa jasad manusia berubah dari satu keadaan ke yang lainnya. Menjadi tanah, kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala bangkitkan kembali. Sebagaimana adanya perubahan pada penciptaan jasad tersebut di kehidupannya yang pertama, dari setetes mani kemudian menjadi segumpal darah kemudian menjadi segumpal daging, kemudian menjadi daging dan tulang sampai akhirnya menjadi satu jasad yang sempurna. Demikian pula Allah Subhanahu wa Ta’ala kembalikan dia di kehidupan yang kedua setelah seluruh jasadnya punah kecuali pangkal tulang ekornya. Telah disebutkan dalam kitab Ash-Shahih, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
كُلُّ ابْنِ آدَمَ يَبْلَى إِلاَّ عَجَبُ الذَّنْبِ، مِنْهُ خُلِقَ وَمِنْهُ يُرَكَّبُ
“Semua jasad bani Adam akan punah kecuali ‘ajabu dzanbi (pangkal tulang ekor), darinya ibnu Adam diciptakan dan darinya jasadnya akan kembali disusun….” (Lihat Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyah hal. 410)

Ba’ts adalah Mengembalikan Jasad yang telah Hancur, Bukan Penciptaan Jasad yang Baru
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَهُوَ الَّذِي يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ وَهُوَ أَهْوَنُ عَلَيْهِ وَلَهُ الْمَثَلُ اْلأَعْلَى فِي السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“Dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya. Dan bagi-Nyalah sifat yang Maha Tinggi di langit dan di bumi; dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Ar-Rum: 27)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَوْمَ نَطْوِي السَّمَاءَ كَطَيِّ السِّجِلِّ لِلْكُتُبِ كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُعِيدُهُ وَعْدًا عَلَيْنَا إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ
“Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati. Sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya.” (Al-Anbiya`: 104)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَضَرَبَ لَنَا مَثَلاً وَنَسِيَ خَلْقَهُ قَالَ مَنْ يُحْيِي الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌ. قُلْ يُحْيِيهَا الَّذِي أَنْشَأَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيمٌ
“Dan ia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa akan kejadiannya; ia berkata: ‘Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?’ Katakanlah: ‘Ia akan dihidupkan oleh Dzat yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang seluruh makhluk’.” (Yasin: 78-79)
Di dalam hadits qudsi, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلَيْسَ أَوَّلُ الْخَلْقِ بِأَهْوَنَ عَلَيَّ مِنْ إِعَادَتِهِ
“Tidaklah penciptaan yang pertama lebih mudah bagi-Ku daripada mengembalikannya.” (HR. Al-Bukhari no. 4973)
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu berkata ketika menjelaskan perkataan Ibnu Taimiyah rahimahullahu: “Dikembalikan ruh-ruh kepada jasadnya”: “(Ini) dalil bahwa ba’ts adalah mengembalikan jasad yang pernah ada bukan menciptakan jasad yang baru akan tetapi mengembalikan jasad yang telah punah dan berubah. Karena jasad manusia berubah menjadi tanah, tulang manusia menjadi lapuk. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala satukan kembali tubuh yang telah bercerai tersebut hingga menjadi jasad yang sempurna kemudian dikembalikanlah semua ruh kepada jasad-jasadnya. Adapun orang yang menyangka akan adanya penciptaan jasad yang baru, sangkaan ini batil, terbantahkan oleh Al-Qur`an dan As-Sunnah serta akal.” (Lihat Syarh Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu). Wallahu a’lam.

Hukum Mengingkari Ba’ts

Hukum Mengingkari Ba’ts
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu mengatakan: “Barangsiapa mengingkari ba’ts berarti dia telah kafir. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنْ لَنْ يُبْعَثُوا قُلْ بَلَى وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْ وَذَلِكَ عَلَى اللهِ يَسِيرٌ
“Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah: ‘Bahkan, demi Rabbku, benar-benar kalian akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah’.” (At-Taghabun: 7) [Lihat Al-Ushul Ats-Tsalatsah]
Asy-Syaikh Hafizh bin Ahmad Al-Hakami rahimahullahu berkata: “Dia (yakni orang yang mengingkari ba’ts) telah kafir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kepada kitab-kitab dan para rasul-Nya.” (A’lamus Sunan Al-Mansyurah, hal. 96)

Bantahan terhadap Orang yang Mengingkari Ba’ts
Kita nyatakan kepada orang yang mengingkari ba’ts tersebut:
1. Masalah ba’ts ini telah mutawatir penukilannya dari para nabi dan rasul di dalam kitab-kitab yang Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan dan telah diterima oleh umat. Bagaimana kalian mengingkarinya sementara kalian justru menerima penukilan filosof dan pemikir yang menyimpang? Padahal penukilan mereka tidaklah sampai derajat penukilan berita adanya ba’ts, tidak dalam cara penyampaiannya ataupun kenyataan yang terjadi.
2. Perkara ba’ts telah dipersaksikan oleh akal akan kemungkinannya. Hal ini terbukti dari beberapa sisi:
a. Semua orang tidaklah mengingkari bahwa dia diciptakan dari tidak ada. Dzat yang menciptakannya dari tidak ada, adalah Mahakuasa untuk mengembalikannya sebagaimana menciptakan dia dari tidak ada. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَهُوَ الَّذِي يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ وَهُوَ أَهْوَنُ عَلَيْهِ وَلَهُ الْمَثَلُ اْلأَعْلَى فِي السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“Dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya.” (Ar-Rum: 27)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَوْمَ نَطْوِي السَّمَاءَ كَطَيِّ السِّجِلِّ لِلْكُتُبِ كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُعِيدُهُ وَعْدًا عَلَيْنَا إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ
“Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati, sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya.” (Al-Anbiya`: 104)
b. Seluruh manusia tidak mengingkari tentang besarnya penciptaan langit dan bumi, karena keduanya adalah makhluk yang besar serta indah bentuknya. Dzat yang telah menciptakan keduanya adalah Mahakuasa untuk menciptakan manusia dan mengembalikan mereka (hidup) setelah mati. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
لَخَلْقُ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ أَكْبَرُ مِنْ خَلْقِ النَّاسِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ
“Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Ghafir: 57)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللهَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضَ وَلَمْ يَعْيَ بِخَلْقِهِنَّ بِقَادِرٍ عَلَى أَنْ يُحْيِيَ الْمَوْتَى بَلَى إِنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Dan apakah mereka tidak memerhatikan bahwa sesungguhnya Allah yang menciptakan langit dan bumi dengan tidak merasa payah dalam menciptakannya, Maha Kuasa untuk menghidupkan orang-orang mati? Ya, (bahkan) sesungguhnya dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al-Ahqaf: 33)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
أَوَلَيْسَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضَ بِقَادِرٍ عَلَى أَنْ يَخْلُقَ مِثْلَهُمْ بَلَى وَهُوَ الْخَلاَّقُ الْعَلِيمُ. إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
“Dan tidaklah Dzat yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan yang serupa dengan itu? Benar, Dia berkuasa. Dan Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: ‘Jadilah!’ Maka terjadilah ia.” (Yasin: 81-82)
c. Semua orang yang punya penglihatan bisa menyaksikan tanah yang tandus tidak bisa menumbuhkan tanaman. Ketika turun hujan, ia menjadi subur dan tumbuh tanaman-tanaman di atasnya setelah mati. Dzat yang telah menghidupkan tanah setelah matinya adalah Mahakuasa untuk menghidupkan manusia yang telah mati serta membangkitkannya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنَّكَ تَرَى اْلأَرْضَ خَاشِعَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ إِنَّ الَّذِي أَحْيَاهَا لَمُحْيِي الْمَوْتَى إِنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Dan di antara tanda-tanda-Nya (ialah) bahwa kau lihat bumi kering dan gersang. Maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Dzat yang menghidupkannya, pastilah dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Fushshilat: 39)
3. Masalah ba’ts ini telah dipersaksikan oleh indera dan kenyataan akan kemungkinannya. Sebagaimana yang Allah Subhanahu wa Ta’ala kabarkan kepada kita tentang adanya kejadian-kejadian pernah dihidupkannya makhluk setelah mati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
أَوْ كَالَّذِي مَرَّ عَلَى قَرْيَةٍ وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَى عُرُوشِهَا قَالَ أَنَّى يُحْيِي هَذِهِ اللهُ بَعْدَ مَوْتِهَا فَأَمَاتَهُ اللهُ مِائَةَ عَامٍ ثُمَّ بَعَثَهُ قَالَ كَمْ لَبِثْتَ قَالَ لَبِثْتُ يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ قَالَ بَلْ لَبِثْتَ مِائَةَ عَامٍ فَانْظُرْ إِلَى طَعَامِكَ وَشَرَابِكَ لَمْ يَتَسَنَّهْ وَانْظُرْ إِلَى حِمَارِكَ وَلِنَجْعَلَكَ آيَةً لِلنَّاسِ وَانْظُرْ إِلَى الْعِظَامِ كَيْفَ نُنْشِزُهَا ثُمَّ نَكْسُوهَا لَحْمًا فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ قَالَ أَعْلَمُ أَنَّ اللهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Atau apakah (kamu tidak memerhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (dindingnya) telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata: ‘Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?’ Maka Allah mematikan orang tersebut seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya: ‘Berapakah lamanya kamu tinggal di sini?’ Ia menjawab: ‘Saya tinggal di sini sehari atau setengah hari.’ Allah berfirman: ‘Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya. Lihatlah makanan dan minumanmu yang belum berubah; dan lihatlah keledai kamu (yang telah menjadi tulang-belulang); Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia; dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging.’ Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) diapun berkata: ‘Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu’.” (Al-Baqarah: 259)
4. Hikmah menghendaki adanya ba’ts setelah kematian, agar setiap jiwa mendapatkan balasan atas apa yang telah dilakukannya. Kalaulah tidak ada ba’ts niscaya penciptaan manusia hanyalah sia-sia, tidak ada nilai dan hikmahnya. Tidak ada perbedaan antara manusia dan hewan ternak dalam kehidupan ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لاَ تُرْجَعُونَ. فَتَعَالَى اللهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ
“Apakah kalian mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kalian secara main-main (sia-sia) dan bahwa kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Maha Tinggi Allah, Raja yang sebenarnya; tidak ada sesembahan yang haq selain Dia, Rabb (yang mempunyai) ‘Arsy yang mulia.” (Al-Mu`minun: 115-116)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّ السَّاعَةَ ءَاتِيَةٌ أَكَادُ أُخْفِيهَا لِتُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا تَسْعَى
“Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang. Aku merahasiakan (waktunya) agar tiap-tiap diri mendapatkan balasan atas apa yang telah dilakukannya.” (Thaha: 15)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَأَقْسَمُوا بِاللهِ جَهْدَ أَيْمَانِهِمْ لاَ يَبْعَثُ اللهُ مَنْ يَمُوتُ بَلَى وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ. لِيُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِي يَخْتَلِفُونَ فِيهِ وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّهُمْ كَانُوا كَاذِبِينَ. إِنَّمَا قَوْلُنَا لِشَيْءٍ إِذَا أَرَدْنَاهُ أَنْ نَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
“Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sumpahnya yang sungguh-sungguh: ‘Allah tidak akan membangkitkan orang yang mati.’ (Tidak demikian), bahkan (pasti Allah akan membangkitkan mereka), suatu janji yang benar dari Allah, akan tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. Agar Allah menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu, agar orang-orang kafir itu mengetahui bahwasanya mereka adalah orang-orang yang berdusta. Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: ‘Kun (jadilah)’, maka jadilah ia.” (An-Nahl: 38-40)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنْ لَنْ يُبْعَثُوا قُلْ بَلَى وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْ وَذَلِكَ عَلَى اللهِ يَسِيرٌ
“Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah: ‘Tidak demikian, demi Rabbku, benar-benar kamu akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.’ Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (At-Taghabun: 7) [Diringkas dari Syarh Al-Ushuluts Tsalatsah karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu]
Demikianlah sekelumit pembahasan tentang masalah ba’ts yang merupakan salah satu permasalahan aqidah yang harus diketahui dan diimani seorang muslim. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memberi taufiq kepada kita untuk selalu istiqamah dalam mencari al-haq dan mengamalkannya.
Walhamdulillah.

Home | Redaksi | Buku Tamu

——————————————————————————–
Copyright © 2005 Asysyariah.com.. All rights reserved
Developed by OaSe Media

Orang baik ataupun jahat sama-sama akan menuai hasil perbuatannya selama di dunia di hari perhitungan nanti. Secara akal sehat, mereka takkan mungkin dibiarkan mati begitu saja tanpa adanya balasan atas mereka. Sehingga orang-orang yang baik tidak mungkin mendapat ganjaran yang sama dengan mereka yang jahat.

Hari kiamat adalah hari yang sangat dahsyat. Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitakan dahsyatnya hari tersebut di dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ. يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّا أَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَى وَمَا هُمْ بِسُكَارَى وَلَكِنَّ عَذَابَ اللهِ شَدِيدٌ
“Hai manusia, bertakwalah kepada Rabbmu. Sesungguhnya goncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat dahsyat. (Ingatlah) pada hari (ketika) kalian melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan wanita yang hamil gugur kandungannya, kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi adzab Allah itu sangat sangat keras.” (Al-Hajj:1-2)
Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
تُحْشَرُونَ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلاً. قَالَتْ عَائِشَةُ: فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، الرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ؟ فَقَالَ: اْلأَمْرُ أَشَدُّ مِنْ أَنْ يُهِمَّهُمْ ذَاكِ
“Kalian akan dikumpulkan pada hari kiamat nanti dalam keadaan tidak memakai alas kaki, tidak berpakaian, dan belum dikhitan.” Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Wahai Rasulullah, kaum pria dan wanita sebagian mereka akan melihat yang lainnya.” Rasulullah berkata: “Keadaan ketika itu lebih dahsyat, mereka tidak lagi memikirkan hal itu.” (HR. Al-Bukhari no. 6572, Muslim no. 2859)
Di hari kiamat akan terjadi beberapa peristiwa yang harus diimani seorang muslim. Al-Imam Ath-Thahawi rahimahullahu berkata: “Kami beriman adanya ba’ts (kebangkitan setelah mati), balasan amal, ditampakkannya amalan, hisab, membaca catatan amal, (juga beriman) adanya pahala dan siksa, serta shirath dan mizan.” (Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah)
Al-Imam Ash-Shabuni rahimahullahu menyatakan: “Ahlud din dan sunnah beriman akan adanya kebangkitan setelah mati di hari kiamat serta mengimani segala yang telah diberitakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang dahsyatnya hari yang haq tersebut.”

Ba’ts (Kebangkitan)
Di antara kejadian yang akan terjadi di hari kiamat adalah ba’ts. Ba’ts adalah dihidupkannya kembali seluruh manusia yang telah mati pada hari kiamat. (Syarh Lum’atul I’tiqad hal. 115)
Ibnu Taimiyyah rahimahullahu menerangkan: “Yang dimaksud di sini adalah dihidupkannya orang-orang yang telah mati dan keluarnya mereka dari kubur mereka untuk mendapatkan keputusan di hari kiamat.” (Tanbihatus Saniyah hal. 225)
Dalil akan adanya ba’ts (kebangkitan) adalah Al-Qur`an, As-Sunnah, dan ijma’. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَاسْتَمِعْ يَوْمَ يُنَادِ الْمُنَادِ مِنْ مَكَانٍ قَرِيبٍ. يَوْمَ يَسْمَعُونَ الصَّيْحَةَ بِالْحَقِّ ذَلِكَ يَوْمُ الْخُرُوجِ
“Dan dengarkanlah (seruan) pada hari penyeru (malaikat) menyeru dari tempat yang dekat. (Yaitu) pada hari mereka mendengar teriakan dengan sebenar-benarnya. Itulah hari keluar (dari kubur).” (Qaf: 41-42)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
أَلاَ يَظُنُّ أُولَئِكَ أَنَّهُمْ مَبْعُوثُونَ. لِيَوْمٍ عَظِيمٍ. يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ
“Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam?” (Al-Muthaffifin: 4-6)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَى
“Dari bumi (tanah) itulah, Kami menjadikan kalian, kepadanya Kami akan mengembalikan kalian, dan darinya Kami akan mengeluarkan kalian di kali yang lain.” (Thaha: 55)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَاللهُ أَنْبَتَكُمْ مِنَ اْلأَرْضِ نَبَاتًا. ثُمَّ يُعِيدُكُمْ فِيهَا وَيُخْرِجُكُمْ إِخْرَاجًا
“Dan Allah menumbuhkan kalian dari tanah dengan sebaik-baiknya, kemudian Dia mengembalikan kalian ke dalam tanah serta mengeluarkan kalian (darinya pada hari kiamat) dengan sebenar-benarnya.” (Nuh:17-18)
Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
يُبْعَثُ كُلُّ عَبْدٍ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ
“Setiap hamba akan dibangkitkan sesuai dengan keadaannya ketika meninggal.” (HR. Muslim no. 2878)
Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا أَنْزَلَ اللهُ بِقَوْمٍ عَذَابًا أَصَابَ الْعَذَابُ مَنْ كَانَ فِيهِمْ ثُمَّ بُعِثُوا عَلَى أَعْمَالِهِمْ
“Jika Allah menginginkan siksa pada suatu kaum, niscaya adzab-Nya mengenai orang yang bersama mereka, kemudian mereka akan dibangkitkan sesuai dengan amalan mereka.” (HR. Al-Bukhari no. 6575, Kitabul Fitan, Bab Idza Anzalallahu bi Qaumin ‘Adzaban)
Ayat-ayat dan hadits di atas adalah sebagian dari dalil-dalil tentang adanya ba’ts (hari manusia dihidupkan kembali). Dan kaum muslimin sepakat akan adanya ba’ts.

Setiap Orang akan Dibangkitkan Sesuai Keadaannya ketika Mati
Hadits-hadits yang shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan akan hal tersebut, yakni setiap orang akan dibangkitkan sesuai dengan keadaannya ketika meninggal. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
يُبْعَثُ كُلُّ عَبْدٍ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ
“Setiap hamba akan dibangkitkan sesuai dengan keadaannya ketika meninggal.” (HR. Muslim no. 2878, Kitabul Jannah wa Shifati Na’imiha wa Ahliha, Bab Al-Amru bi Husni Zhan billahi Ta’ala ‘indal Maut)
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyatakan tentang seseorang yang terluka di medan perang:
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لاَ يُكْلَمُ أَحَدٌ فِي سَبِيلِ اللهِ -وَاللهُ أَعْلَمُ بِمَنْ يُكْلَمُ فِي سَبِيلِهِ- إِلاَّ جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَاللَّوْنُ لَوْنُ الدَّمِ وَالرِّيْحُ رِيحُ الْمِسْكِ
“Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, tidaklah ada seorang yang terluka di jalan Allah –Allah Maha Tahu siapa yang terluka di jalan-Nya– kecuali dia akan datang di hari kiamat dalam keadaan terluka, warnanya warna darah namun baunya bau misik (minyak wangi).” (HR. Al-Bukhari no. 2593, Kitabul Jihad was Sair, Bab Man Yujrahu fi Sabilillah ‘Azza wa Jalla dan Muslim, no. 1876, Kitabul Imarah, Bab Fadhlul Jihad wal Khuruj fi Sabilillah)
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata tentang seseorang yang meninggal dalam keadaan ihram:
اغْسِلُوهُ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ وَكَفِّنُوْهُ فِي ثَوْبَيْهِ وَلاَ تُخَمِّرُوا رَأْسَهُ فَإِنَّ اللهَ يَبْعَثُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مُلَبِّيًا
“Mandikanlah dia dengan air dan daun bidara, kafanilah dia dengan dua pakaian ihramnya, janganlah kalian menutup kepalanya, karena Allah akan membangkitkan dia dalam keadaan bertalbiyah.” (HR. Muslim no. 1206, Kitabul Hajj, Bab Ma Yuf’alu bil Muhrim idza Mata)

Manusia Dibangkitkan ketika Malaikat Israfil Meniup Sangkakala yang Kedua
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي اْلأَرْضِ إِلاَّ مَنْ شَاءَ اللهُ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ
“Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah semua makhluk yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi maka mereka pun berdiri menunggu (putusannya masing-masing).” (Az-Zumar: 68)
Asy-Syaikh Al-Hakami rahimahullahu berkata: “Dalam ayat ini disebutkan dua tiupan sangkakala, yang pertama untuk kematian dan yang kedua dibangkitkannya makhluk setelah kematian.” (A’lamus Sunan Al-Mansyurah hal. 97)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَإِذَا هُمْ مِنَ اْلأَجْدَاثِ إِلَى رَبِّهِمْ يَنْسِلُونَ
“Dan ditiuplah sangkalala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Rabb mereka.” (Yasin: 51)
Tiupan ini adalah tiupan sangkalala yang kedua, sebagaimana dalam hadits Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma:
ثُمَّ يُنْفَخُ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ
“Kemudian ditiuplah sangkakala untuk kali berikutnya. Maka manusia pun berdiri menunggu (keputusan).” (HR. Muslim no. 2940)

Manusia Dibangkitkan Kembali dari Tulang Ekornya
Al-Imam Ibnul Abil ‘Izzi rahimahullahu berkata: “Pendapat salaf dan jumhur orang-orang yang berakal adalah bahwa jasad manusia berubah dari satu keadaan ke yang lainnya. Menjadi tanah, kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala bangkitkan kembali. Sebagaimana adanya perubahan pada penciptaan jasad tersebut di kehidupannya yang pertama, dari setetes mani kemudian menjadi segumpal darah kemudian menjadi segumpal daging, kemudian menjadi daging dan tulang sampai akhirnya menjadi satu jasad yang sempurna. Demikian pula Allah Subhanahu wa Ta’ala kembalikan dia di kehidupan yang kedua setelah seluruh jasadnya punah kecuali pangkal tulang ekornya. Telah disebutkan dalam kitab Ash-Shahih, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
كُلُّ ابْنِ آدَمَ يَبْلَى إِلاَّ عَجَبُ الذَّنْبِ، مِنْهُ خُلِقَ وَمِنْهُ يُرَكَّبُ
“Semua jasad bani Adam akan punah kecuali ‘ajabu dzanbi (pangkal tulang ekor), darinya ibnu Adam diciptakan dan darinya jasadnya akan kembali disusun….” (Lihat Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyah hal. 410)

Ba’ts adalah Mengembalikan Jasad yang telah Hancur, Bukan Penciptaan Jasad yang Baru
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَهُوَ الَّذِي يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ وَهُوَ أَهْوَنُ عَلَيْهِ وَلَهُ الْمَثَلُ اْلأَعْلَى فِي السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“Dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya. Dan bagi-Nyalah sifat yang Maha Tinggi di langit dan di bumi; dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Ar-Rum: 27)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَوْمَ نَطْوِي السَّمَاءَ كَطَيِّ السِّجِلِّ لِلْكُتُبِ كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُعِيدُهُ وَعْدًا عَلَيْنَا إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ
“Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati. Sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya.” (Al-Anbiya`: 104)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَضَرَبَ لَنَا مَثَلاً وَنَسِيَ خَلْقَهُ قَالَ مَنْ يُحْيِي الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌ. قُلْ يُحْيِيهَا الَّذِي أَنْشَأَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيمٌ
“Dan ia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa akan kejadiannya; ia berkata: ‘Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?’ Katakanlah: ‘Ia akan dihidupkan oleh Dzat yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang seluruh makhluk’.” (Yasin: 78-79)
Di dalam hadits qudsi, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلَيْسَ أَوَّلُ الْخَلْقِ بِأَهْوَنَ عَلَيَّ مِنْ إِعَادَتِهِ
“Tidaklah penciptaan yang pertama lebih mudah bagi-Ku daripada mengembalikannya.” (HR. Al-Bukhari no. 4973)
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu berkata ketika menjelaskan perkataan Ibnu Taimiyah rahimahullahu: “Dikembalikan ruh-ruh kepada jasadnya”: “(Ini) dalil bahwa ba’ts adalah mengembalikan jasad yang pernah ada bukan menciptakan jasad yang baru akan tetapi mengembalikan jasad yang telah punah dan berubah. Karena jasad manusia berubah menjadi tanah, tulang manusia menjadi lapuk. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala satukan kembali tubuh yang telah bercerai tersebut hingga menjadi jasad yang sempurna kemudian dikembalikanlah semua ruh kepada jasad-jasadnya. Adapun orang yang menyangka akan adanya penciptaan jasad yang baru, sangkaan ini batil, terbantahkan oleh Al-Qur`an dan As-Sunnah serta akal.” (Lihat Syarh Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu). Wallahu a’lam.

Hukum Mengingkari Ba’ts

Hukum Mengingkari Ba’ts
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu mengatakan: “Barangsiapa mengingkari ba’ts berarti dia telah kafir. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنْ لَنْ يُبْعَثُوا قُلْ بَلَى وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْ وَذَلِكَ عَلَى اللهِ يَسِيرٌ
“Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah: ‘Bahkan, demi Rabbku, benar-benar kalian akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah’.” (At-Taghabun: 7) [Lihat Al-Ushul Ats-Tsalatsah]
Asy-Syaikh Hafizh bin Ahmad Al-Hakami rahimahullahu berkata: “Dia (yakni orang yang mengingkari ba’ts) telah kafir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kepada kitab-kitab dan para rasul-Nya.” (A’lamus Sunan Al-Mansyurah, hal. 96)

Bantahan terhadap Orang yang Mengingkari Ba’ts
Kita nyatakan kepada orang yang mengingkari ba’ts tersebut:
1. Masalah ba’ts ini telah mutawatir penukilannya dari para nabi dan rasul di dalam kitab-kitab yang Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan dan telah diterima oleh umat. Bagaimana kalian mengingkarinya sementara kalian justru menerima penukilan filosof dan pemikir yang menyimpang? Padahal penukilan mereka tidaklah sampai derajat penukilan berita adanya ba’ts, tidak dalam cara penyampaiannya ataupun kenyataan yang terjadi.
2. Perkara ba’ts telah dipersaksikan oleh akal akan kemungkinannya. Hal ini terbukti dari beberapa sisi:
a. Semua orang tidaklah mengingkari bahwa dia diciptakan dari tidak ada. Dzat yang menciptakannya dari tidak ada, adalah Mahakuasa untuk mengembalikannya sebagaimana menciptakan dia dari tidak ada. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَهُوَ الَّذِي يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ وَهُوَ أَهْوَنُ عَلَيْهِ وَلَهُ الْمَثَلُ اْلأَعْلَى فِي السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“Dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya.” (Ar-Rum: 27)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَوْمَ نَطْوِي السَّمَاءَ كَطَيِّ السِّجِلِّ لِلْكُتُبِ كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُعِيدُهُ وَعْدًا عَلَيْنَا إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ
“Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati, sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya.” (Al-Anbiya`: 104)
b. Seluruh manusia tidak mengingkari tentang besarnya penciptaan langit dan bumi, karena keduanya adalah makhluk yang besar serta indah bentuknya. Dzat yang telah menciptakan keduanya adalah Mahakuasa untuk menciptakan manusia dan mengembalikan mereka (hidup) setelah mati. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
لَخَلْقُ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ أَكْبَرُ مِنْ خَلْقِ النَّاسِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ
“Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Ghafir: 57)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللهَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضَ وَلَمْ يَعْيَ بِخَلْقِهِنَّ بِقَادِرٍ عَلَى أَنْ يُحْيِيَ الْمَوْتَى بَلَى إِنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Dan apakah mereka tidak memerhatikan bahwa sesungguhnya Allah yang menciptakan langit dan bumi dengan tidak merasa payah dalam menciptakannya, Maha Kuasa untuk menghidupkan orang-orang mati? Ya, (bahkan) sesungguhnya dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al-Ahqaf: 33)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
أَوَلَيْسَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضَ بِقَادِرٍ عَلَى أَنْ يَخْلُقَ مِثْلَهُمْ بَلَى وَهُوَ الْخَلاَّقُ الْعَلِيمُ. إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
“Dan tidaklah Dzat yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan yang serupa dengan itu? Benar, Dia berkuasa. Dan Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: ‘Jadilah!’ Maka terjadilah ia.” (Yasin: 81-82)
c. Semua orang yang punya penglihatan bisa menyaksikan tanah yang tandus tidak bisa menumbuhkan tanaman. Ketika turun hujan, ia menjadi subur dan tumbuh tanaman-tanaman di atasnya setelah mati. Dzat yang telah menghidupkan tanah setelah matinya adalah Mahakuasa untuk menghidupkan manusia yang telah mati serta membangkitkannya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنَّكَ تَرَى اْلأَرْضَ خَاشِعَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ إِنَّ الَّذِي أَحْيَاهَا لَمُحْيِي الْمَوْتَى إِنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Dan di antara tanda-tanda-Nya (ialah) bahwa kau lihat bumi kering dan gersang. Maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Dzat yang menghidupkannya, pastilah dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Fushshilat: 39)
3. Masalah ba’ts ini telah dipersaksikan oleh indera dan kenyataan akan kemungkinannya. Sebagaimana yang Allah Subhanahu wa Ta’ala kabarkan kepada kita tentang adanya kejadian-kejadian pernah dihidupkannya makhluk setelah mati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
أَوْ كَالَّذِي مَرَّ عَلَى قَرْيَةٍ وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَى عُرُوشِهَا قَالَ أَنَّى يُحْيِي هَذِهِ اللهُ بَعْدَ مَوْتِهَا فَأَمَاتَهُ اللهُ مِائَةَ عَامٍ ثُمَّ بَعَثَهُ قَالَ كَمْ لَبِثْتَ قَالَ لَبِثْتُ يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ قَالَ بَلْ لَبِثْتَ مِائَةَ عَامٍ فَانْظُرْ إِلَى طَعَامِكَ وَشَرَابِكَ لَمْ يَتَسَنَّهْ وَانْظُرْ إِلَى حِمَارِكَ وَلِنَجْعَلَكَ آيَةً لِلنَّاسِ وَانْظُرْ إِلَى الْعِظَامِ كَيْفَ نُنْشِزُهَا ثُمَّ نَكْسُوهَا لَحْمًا فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ قَالَ أَعْلَمُ أَنَّ اللهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Atau apakah (kamu tidak memerhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (dindingnya) telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata: ‘Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?’ Maka Allah mematikan orang tersebut seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya: ‘Berapakah lamanya kamu tinggal di sini?’ Ia menjawab: ‘Saya tinggal di sini sehari atau setengah hari.’ Allah berfirman: ‘Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya. Lihatlah makanan dan minumanmu yang belum berubah; dan lihatlah keledai kamu (yang telah menjadi tulang-belulang); Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia; dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging.’ Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) diapun berkata: ‘Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu’.” (Al-Baqarah: 259)
4. Hikmah menghendaki adanya ba’ts setelah kematian, agar setiap jiwa mendapatkan balasan atas apa yang telah dilakukannya. Kalaulah tidak ada ba’ts niscaya penciptaan manusia hanyalah sia-sia, tidak ada nilai dan hikmahnya. Tidak ada perbedaan antara manusia dan hewan ternak dalam kehidupan ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لاَ تُرْجَعُونَ. فَتَعَالَى اللهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ
“Apakah kalian mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kalian secara main-main (sia-sia) dan bahwa kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Maha Tinggi Allah, Raja yang sebenarnya; tidak ada sesembahan yang haq selain Dia, Rabb (yang mempunyai) ‘Arsy yang mulia.” (Al-Mu`minun: 115-116)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّ السَّاعَةَ ءَاتِيَةٌ أَكَادُ أُخْفِيهَا لِتُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا تَسْعَى
“Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang. Aku merahasiakan (waktunya) agar tiap-tiap diri mendapatkan balasan atas apa yang telah dilakukannya.” (Thaha: 15)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَأَقْسَمُوا بِاللهِ جَهْدَ أَيْمَانِهِمْ لاَ يَبْعَثُ اللهُ مَنْ يَمُوتُ بَلَى وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ. لِيُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِي يَخْتَلِفُونَ فِيهِ وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّهُمْ كَانُوا كَاذِبِينَ. إِنَّمَا قَوْلُنَا لِشَيْءٍ إِذَا أَرَدْنَاهُ أَنْ نَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
“Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sumpahnya yang sungguh-sungguh: ‘Allah tidak akan membangkitkan orang yang mati.’ (Tidak demikian), bahkan (pasti Allah akan membangkitkan mereka), suatu janji yang benar dari Allah, akan tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. Agar Allah menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu, agar orang-orang kafir itu mengetahui bahwasanya mereka adalah orang-orang yang berdusta. Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: ‘Kun (jadilah)’, maka jadilah ia.” (An-Nahl: 38-40)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنْ لَنْ يُبْعَثُوا قُلْ بَلَى وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْ وَذَلِكَ عَلَى اللهِ يَسِيرٌ
“Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah: ‘Tidak demikian, demi Rabbku, benar-benar kamu akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.’ Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (At-Taghabun: 7) [Diringkas dari Syarh Al-Ushuluts Tsalatsah karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu]
Demikianlah sekelumit pembahasan tentang masalah ba’ts yang merupakan salah satu permasalahan aqidah yang harus diketahui dan diimani seorang muslim. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memberi taufiq kepada kita untuk selalu istiqamah dalam mencari al-haq dan mengamalkannya.
Walhamdulillah.

Home | Redaksi | Buku Tamu

——————————————————————————–
Copyright © 2005 Asysyariah.com.. All rights reserved
Developed by OaSe Media

About ibnumunir

Saya seorang pemuda muslim. Kelahiran 7 Mei 1987 di Tapanuli Selatan,Sumatera Utara. Setelah menyelesaikan SD di Sumut, saya hijrah ke Pekanbaru bersama kakak saya hingga saya menyelesaikan SMK Pelayaran YAPII Pekanbaru. Sekarang saya sedang melanjutkan pendidikan di Akademi Maritim Yogyakarta . Saya sudah berada di semester III, tinggal 3 semester lagi.. Wah masih lama nih. Doakan y Tuan Putri semoga saya bisa menyegerakannya bagimu..

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Statistik Blog

  • 3,779 hits

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Join 8 other followers

%d bloggers like this: